Pusakata Tutup Bandung Readers Festival 2019

Rangkaian acara Bandung Readers Festival 2019, pada Minggu (8/9) ditutup oleh penampilan musik dari Pusakata. (dok. Bandung Readers Festival 2019).

RADARPENA.ID – Rangkaian acara Bandung Readers Festival 2019, pada Minggu (8/9) ditutup oleh penampilan musik dari Pusakata. Pusakata juga berbagi cerita tentang pengalaman mereka berliterasi.

Is, yang merupakan orang di balik Pusakata, setiap kali selesai mendendangkan sebuah lagu, ia selalu menyapa penonton dan mengajaknya berdiskusi. Bagi Is, membaca apapun itu penting, termasuk membaca sebuah lagu.

Interaksi pencipta dan penikmat musik hadir di sebuah pertunjukan. Is sangat senang bercerita di dalam setiap karyanya. Cerita di sebuah lagu bisa jadi terdapat sambungannya di lagu yang lain.

“Buat saya, apapun itu, entah ia film entah ia musik atau apapun bentuknya, kesenian itu harus dibaca. Interaksi pengkarya dan penikmatnya adalah ketika karya itu hadir di depan. Dinyanyikan. Efek yang muncul dari interaksi itu nggak perlu diatur. Dari dulu kalau saya bikin lagu itu selalu bersambung, atau bercerita,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Radarpena.id, Selasa (10/9).

Dari beberapa lagu yang dinyanyikan, Is juga membawakan lagu-lagu dari album terbarunya yang bertajuk “Dua Buku,” yang dirilis Juli lalu. “Kumpul Famili dan Teman” merupakan salah satu lagu dalam album tersebut. Di dalamnya, Is bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana ia berinteraksi dengan orang tua, kawan-kawannya, hingga makanan di masa kecilnya.

Menurut Is, membaca juga penting bagi setiap musisi. Bagaimana musisi merangkai kata dalam setiap liriknya, bahkan sampai bisa merangkai sebuah cerita dalam satu album, itu ditopang oleh apa saja yang telah dibaca oleh seorang musisi.

Pria kelahiran Makassar itu menambahkan, membaca menghadirkan kesenangan tersendiri, mulai dari kekayaan bahasa sampai detail setiap peristiwa.

“Buku terakhir yang saya baca adalah karya Sidharta & Dan Brown. Ketika membaca, saya belajar untuk melihat sesuatu dengan detail. Bahasa itu merupakan suatu kekayaan. Sekarang saya belum baca lagi karena saya menikmati itu,” ungkap pria yang bernama asli Mohammad Istiqomah Djamad itu.

Pusakata menutup penampilannya dengan lagu “Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan.” Sebelumnya, puncak Bandung Readers Festival 2019 juga menghadirkan beberapa talkshow.

Sementara Koordinator BRF, Galuh Pangestri mengatakan bahwa Bandung Readers Festival diharapkan dapat menjadi penyemangat bersama dalam menjaga budaya membaca, sekaligus merawat ekosistem literasi di kota Bandung dan lebih luas lagi, di Indonesia.

Dalam sambutan penutupan itu, ia mengucapkan terima kasih banyak kepada individu dan komunitas yang telah mendukung baik secara moril dan materiil, yang mengerahkan daya dan pikiran sehingga Bandung Readers Festival dapat terwujud untuk masyarakat.

“Acara ini mungkin tak akan seperti sekarang jika tidak ada kolaborasi bersama kawan-kawan semua, mulai dari komunitas, para pembicara dan moderator, para pelapak buku, hingga kawan-kawan semua yang hadir di sini. Bandung Readers Festival adalah milik kita bersama, sampai jumpa di BRF 2020,” pungkasnya. (rls/heq)