Penelusuran Jejak Perempuan di Dunia Sastra dan Cover Buku Dibahas di Bandung Readers Festival 2019

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Fasko Dehotman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT – Bandung Readers Festival 2019 mengadakan talkshow penelusuran jejak perempuan di dunia sastra dan cover atau sampul buku.

Acara tersebut digelar di NuArt Sculpture Park, Jalan Setraduta Raya Blok L 6, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (6/9/2019) siang.

Pada talkshow pertama, hadir tiga pembicara dari Ruang Perempuan & Tulisan serta akademisi Universitas Padjadjaran.

Mereka di antaranya adalah Dewi Noviami, Aura Alfa Asmaradana, dan Aquarini Priyatna.

Ketiganya, sama-sama membahas tentang penelusuran jejak perempuan di dunia sastra.

Menurut Aura Alfa, saat ini sastrawan perempuan secara eksistensi masih kalah dengan sastrawan laki-laki.

 

“Dengan banyak mencari, membaca dan membicarakan sastrawan perempuan Indonesia, tentu bisa memunculkan banyak hal menarik,” ujar Aura.

Sementara itu, Dewi Noviami, mengatakan bahwa membaca karya sastra dari sasatrawan perempuan itu akan menarik dan akan banyak menemukan sisi lain tentang apa yang digeluti perempuan.

Satu di antara sastrawan perempuan yang dibicarakan Novi sapaan akrabnya Dewi Noviami, adalah Rohana Kudus, sastrawan perempuan yang paling terkenal pada masanya.

Dikatakan Novi, Rohana Kudus merupakan seorang sastrawan dan wartawati perempuan berdarah minang.

Ketika membaca beberapa karya tulis Rohana Kudus, pembaca akan menemukan sisi lain perjuangan perempuan Indonesia zaman dulu.

“Banyak nama penulis perempuan, namun tidak banyak dari mereka yang dibicarakan. Setiap perempuan punya cerita berbeda. Ketika membicarakan tulisan Rohana Kudus, kita akan menemukan cerita perempuan yang berani melawan sistem patriarki zaman itu,” ujar Novi.

Cover Buku

Masih di lokasi yang sama, talkshow kedua membahas tentang kekuatan dari sebuah sampul atau cover buku.

Bertemakan ‘Judge the Book by Its Cover’, talkshow tersebut mendatangkan tiga narasumber, yakni Emte (Mohammad Taufik), Koskow (FX Widiyatmoko), dan Irawandhani Kamaraga.

Ketiga narasumber tersebut sama-sama bergelut di dunia seni dan desain.

Founder Binatang Press, Irawandhani Kamaraga, mengatakan, ketika seseorang akan menerbitkan buku, harus berhati-hati dalam menentukan sebuah sampul.

Maka dari itu, Binatang Press bekerjasama dengan banyak ilustrator, salah satunya dengan Emte.

“Binatang Press bagian dari sebuah perusahan illustrator. Ketika buku akan terbit, visual dan bahan isi buku haruslah sama,” ujar Irawandhani, dihadapan puluhan pengunjung.

Irawandhani menambahkan, apabila percetakan buku itu berbasis crafting, perlu ada pertimbangan yang matang saat memilih sebuah cover buku.

“Kami dari Binatang Press baru mulai menentukan sampul buku itu di akhir, atau setelah isi dan layout terbentuk,” jelas Irawandhani.

Bandung Readers Festival 2019 Belum Usai

Bandung Readers Festival 2019 masih akan berlangsung hingga 8 September mendatang.

Museum Gedung Sate akan menjadi lokasi puncak acaranya.

Nantinya akan ada banyak lagi talkshow, workshop, bazar buku, serta hal menarik lainnya. (Fasko)

Sumber: jabar.tribunnews.com