Hari Kedua Bandung Readers Festival 2019 Bicarakan Buku dan Budaya

Talkshow pertama Bandung Readers Festival 2019 yang digelar di NuArt Sculpture Park, Kamis (5/9), membicarakan tentang penelusuran jejak perempuan dalam dunia sastra, dengan tiga pembicara yaitu Dewi Noviami dan Aura Alfa Asmaradana dari Ruang Perempuan dan Tulisan, serta akademisi Universitas Padjajaran Aquarini Priyatna. (dok. Bandung Readers Festival 2019)

RADARPENA.ID – Hari kedua Bandung Readers Festival 2019 menghadirkan talkshow tentang buku dan budaya di lokasi yang berbeda. Pada talkshow pertama yang digelar di NuArt Sculpture Park, membicarakan tentang jejak perempuan dalam dunia sastra.

Dalam talkshow pertama mendatangkan tiga pembicara yang berkompeten di bidangnya. Di antaranya Dewi Noviami dan Aura Alfa Asmaradana dari Ruang Perempuan dan Tulisan, serta akademisi Universitas Padjajaran Aquarini Priyatna.

Dewi Noviami mengatakan, dengan banyak mencari, membaca dan membicarakan sastrawan perempuan Indonesia, itu bisa memunculkan banyak hal menarik.

Ia mencontohkan, ketika membaca Rohana Kudus, sastrawan dan wartawan perempuan berdarah Minang, pembaca akan menemukan sisi laun perjuangan perempuan Indonesia zaman dulu.

“Banyak nama penulis perempuan, namun tidak banyak dari mereka yang dibicarakan. Setiap perempuan punya cerita berbeda. Ketika membicarakan tulisan Rohana Kudus, kita akan menemukan cerita perempuan yang berani melawan sistem patriarki zaman itu,” ujarnya melalui penyataan tertulis yang diterima Radarpena.id, Kamis (5/9).

Masih di lokasi yang sama, talkshow kedua membahas kekuatan dari sebuah sampul buku. Bertemakan “Judge the Book by Its Cover,” talkshow tersebut mendatangkan tiga narasumber, di antaranya adalah Emte (Mohammad Taufik), Koskow (FX Widiyatmoko), dan Irawandhani Kamaraga. Ketiganya bergelut di dunia seni dan desain.

Irawandhani Kamaraga, founder Binatang Press, mengungkapkan bahwa ketika akan menerbitkan buku, ia sangat berhati-hati dalam menentukan sebuah sampul. Karenanya, Binatang Press bekerjasama dengan banyak ilustrator, salah satunya dengan Emte.

“Binatang Press bagian dari sebuah perusahan illustrator. Ketika buku akan terbit, visual dan bahan isi buku haruslah sama. Percetakan kami berbasis crafting. Saat memilih sebuah cover buku, perlu ada pertimbangan yang matang. Binatang Press menentukan sampul buku di akhir, setelah isi dan layout terbentuk,” ujar Wandha, sapaan akrabnya.

Selanjutnya giliran talkshow kebudayaan dengan tema “Mawa Tradisi ka Kiwari.” yang menghadirkan Man, vokalis band death metal Jasad, dan Ilham Nurwansyah seorang peneliti naskah sunda kuno.

Berlokasi di tempat yang berbeda, yaitu di Rumah The Panasdalam, Jalan Ambon No. 8A, keduanya membicarakan pentingnya kesadaran budaya di masa kini. Man, yang juga seorang budayawan sunda, mengungkapkan bahwa hari ini anak muda sudah asing di negerinya sendiri. Mereka sangat sedikit mengenal budaya leluhurnya.

“Saat ini kita sudah menjadi asing di tanah sendiri, menjadi sasaran tembak oleh penjajah pikiran. Ketika membicarakan leluhur, banyak orang yang mengatakan itu pasti hantu, musyrik, dan lainnya. Padahal di sana terkandung nilai-nilai kemanusiaan yang sangat adiluhung. Saya sempat termakan kata-kata para akademisi tentang kearifan lokal. Apanya yang lokal? ya kalau bersikap arif itu harus mengglobal,” ujarnya dengan logat sunda yang sangat kental.

Bandung Readers Festival 2019 masih akan berlangsung hingga 8 September mendatang. Museum Gedung Sate menjadi lokasi puncak acara. Akan ada banyak lagi talkshow, workshop, bazar buku, serta hal menarik lainnya. (rls/heq)