Diskusi Sambil Belanja Buku di Bandung Readers Festival 2019

Museum Gedung Sate dipenuhi para pengunjung Bandung Readers Festival (BRF) 2019, Sabtu (7/9). Di hari keempat BRF itu, total ada empat sajian talkshow, yang dimeriahkan juga oleh beberapa stand komunitas serta bazar buku. (dok. Bandung Readers Festival 2019)

RADARPENA.ID – Museum Gedung Sate dipenuhi para pengunjung Bandung Readers Festival (BRF) 2019, Sabtu (7/9). Di hari keempat BRF itu, total ada empat sajian talkshow, yang dimeriahkan juga oleh beberapa stand komunitas serta bazar buku. Stand bazar buku yang hadir tak hanya dari Bandung, namun juga dari Yogyakarta. Diskusi sambil belanja buku menjadi pemandangan menarik pada hari itu.

BRF hari keempat dibuka dengan talkshow bertemakan “Modus Penyebaran Teks” yang menghadirkan tiga pembicara; Lala Bohang, seorang seniman visual dan penulis, sastrawan Theresia Rumthe, dan Fryza Pavitta, Direktur Simpul Group. Mereka membicarakan bagaimana bahan bacaan bisa disebarkan secara efektif di tengah arus perkembangan teknologi. Fryza mengatakan bahwa media sosial mempermudah penyebaran teks, dan memancing kreativitas seseorang.

“Di media sosial, kita bisa menggunakan banyak fasilitas. Dalam penyebaran teks, perhatikan story discovery, story telling yang kuat, channel mana yang akan dipilih, serta intensinya seperti apa,” ujar Fryza melalui keterangan tertulis yang diterima Radarpena.id.

Talkshow kedua juga membicarakan teks, namun lebih ditujukan untuk buku anak-anak. Selain teks, visual juga dibahas. Dengan tema “Buku Anak: Kekuatan Teks dan Visual,” talkshow itu menghadirkan tiga pembicara, di antaranya Riama Maslan, dosen di FSRD ITB, Puti Ceniza Sapphira dari Pustakalana Children’s Library, dan Rassi Narika, Co-Founder Seumpama. Ressi berpendapat, bahwa menulis buku anak itu susah, namun harus terus dilakukan.

“Ada kekuatan dalam cerita dan ilustrasi. Nulis buku anak itu susah, karena harus menyederhanakan konsep yang kompleks. Cara penulisan dan cara berbicara itu berbeda. Nulis buku anak itu susah, tapi kita perlu bikin terus,” uajrnya Ressi.

Sedangkan talkshow ketiga mengambil tema “Maca Bari Ngariung” yang berarti membaca sambil berkumpul, menghadirkan Irfan Teguh dari Komunitas Aleut! dan Adew Habtsa dari AARC (Asian African Reading Club). Irfan, yang juga bekerja di Tirto.id, mengatakan bahwa konsistensi membaca menjadi kunci utama, tidak masalah dengan banyak sedikitnya anggota komunitas baca.

“Tidak masalah jika anggota pembaca itu sedikit, yang penting tetap konsisten dan menjaga kualitas. Bandung Readers Festival ini, kan, berarti festival menyimak. Nah, kita sebenarnya sedang belajar menyimak. Menyimak itu sangatlah penting,” ujar lelaki berkacamata itu.

Talkshow terakhir, dengan tema “Narasi Sebagai New Media: Apa dan Bagaimana?” menghadirkan Zen RS dan Firza Arifien yang keduanya dari Narasi.TV. Mereka memaparkan tentang perkembangan Narasi.TV sebagai salah satu media baru. Firza, yang merupakan Executive Producer Narasi.TV, mengatakan bahwa perubahan dari media konvensional ke media baru disebabkan adanya perubahan lanskap media dan perilaku audience atau pembaca itu sendiri.

“Dulu, media konvensional bersifat satu arah. Sedangkan saat ini, kita semua bisa menjadi corong informasi. Disinilah Narasi berupaya menjadi corong informasi dua arah,” ungkap Firza.

Sementara, kantor Peace Generation Indonesia (PeaceGen) menjadi lokasi satellite event BRF 2019, dengan tema “Boardgame for Peace: Literasi Lewat Game.” Para pengunjung melatih daya literasinya melalui game yang difasilitasi langsung oleh Direktur Eksekutif PeaceGen, Irfan AmaLee beserta beberapa stafnya. Irfan mengatakan bahwa literasi bisa juga disampaikan dengan permainan yang menyenangkan.

“Boardgame memiliki kesamaan dengan BRF, yaitu melatih critical thinking. Selain itu, rasa empati juga diasah. Boardgame bukan tentang siapa mengalahkan siapa, tetapi saling bekerja sama untuk saling mendukung satu sama lain, menyelamatkan galaksi seutuhnya,” ujar Irfan AmaLee yang juga mantan CEO Mizan Application Publisher.

Serangkaian talkshow, lapak buku serta beberapa stand komunitas akan hadir lagi memeriahkan puncak BRF 2019 di Museum Gedung Sate, pada hari Minggu, 8 September 2019. Selain itu, akan ada Pusakata sebagai bintang tamu sekaligus penutup dari serangkaian festival literasi pertama di Kota Bandung ini. (rls/heq)

Sumber: radarpena.id