Difabel Hingga Blogger Ikut Meriahkan Bandung Readers Festival 2019

Dua sesi talkshow serta satu workshop terlaksana di perhelatan Bandung Readers Festival 2019 hari ketiga, yang berlokasi di Abraham and Smith HQ, Jalan Tamblong Dalam No.2, Bandung, Jum’at (6/9). (dok. Bandung Readers Festival 2019)

RADARPENA.ID – Dua sesi talkshow serta satu workshop terlaksana di perhelatan Bandung Readers Festival 2019 hari ketiga, yang berlokasi di Abraham and Smith HQ, Jalan Tamblong Dalam No.2, Bandung, Jum’at (6/9). Sesi pertama merupakan talkshow bertemakan “Hak Baca Bagi Difabel.” Selain mengundang narasumber, talkshow tersebut juga mengundang kawan-kawan difabel sebagai peserta.

Yuyun Yuningsih, Direktur Bandung Independent Living Center (BILiC), dan Astusi Parengkuh, relawan pengisi suara di Difalitera.org, menjadi pembicara talkshow. Sementara, Sufty Nurahmartiyanti, dari Teman tanpa Batas, menjadi moderator. Membicarakan hak baca bagi difabel, Yuyun mengatakan bahwa alat bantu dalam bentuk aplikasi sangat penting bagi seorang difabel selain adanya peran aktif dari masyarakat dan pemerintah.

“Adanya aplikasi text to voice ini sangatlah membantu. Serta peran aktif masyarakat dan pemerintah juga sangat diperlukan karena ada sebagian difabel yang bersembunyi atau pun yang disembunyikan oleh keluarganya. Saya ingin melihat kedepannya banyak penulis yang terlahir dari kaum difabel. Satu kebaikan dari Bandung Readers Festival ini, akan menebarkan kebaikan lainnya. Mari bangun hak baca bagi kaum difabel,” ujar Yuyun melalui keterangan tertulis yang diterima Radarpena.id.

Senada dengan Yuyun, Astuti, yang juga anggota dari komunitas Tower Solo, mengatakan bahwa perangkat audio yang sesuai sangatlah penting bagi seorang difabel. Sebelumnya ia pernah mengundang orang-orang difabel dalam siaran radio. Dari siaran itulah ia menyimpulkan pentingnya perangkat audio tersebut.

“Dari siaran itu kami menyimpulkan kebutuhan kaum difabel adalah audio. Lalu mulailah karya-karya yang diaudiokan, dan terealisasi pertama kali di sekolah TK. Lalu selanjutnya ada dana dari DFC (Dewata Forza Club). Ternyata proyeknya masih berjalan hingga sekarang, dan sudah hampir ada 150 karya yang sudah diaudiokan. Dalam organisasi ini pun kami melakukan pelatihan-pelatihan untuk kawan-kawan difabel,” ujar Astuti.

Selanjutnya, workshop membaca kritis yang disampaikan oleh Zen RS, Pemimpin Redaksi Narasi TV, merupakan sesi kedua pada hari itu. Zen mengatakan, sebelum seseorang mampu berpikir kritis, ia harus mampu membaca kritis. Menurutnya lagi, hoax muncul dari cara seseorang membaca.

“Sebelum mampu berpikir kritis, kita harus mampu membaca kritis. Hoax itu bukan karena politik. Hoax itu dikarenakan kurangnya kita mengerti bahasa Indonesia. Kembali mempelajari bahasa Indonesia merupakan pekerjaan rumah bersama,” ujar Zen.

Sementara talkshow bertemakan “Dinamika Ngeblog” menjadi sesi penutup pada hari itu. Para pembicara tentunya seorang yang memiliki pengalaman panjang di dunia blog, mereka adalah Nurul Ulu, blogger Bandungdiary.id, dan Nike Prima, perempuan di balik Livingloving.net.

Di tengah derasnya arus digital yang melahirkan banyak platform, kedua pembicara berpendapat bahwa blog masih relevan untuk digunakan. Nurul Ulu, misalnya, berpendapat bahwa saat seseorang menggunakan blog, saat itu dia sedang menciptakan platform baru. Menurutnya lagi, dalam blog seseorang bisa melakukan apa saja yang diinginkan.

“Saat kita ngeblog sebenarnya kita sedang membuat platform baru, lho. Menurut saya, masa depan blog masih ada. Kreativitas kita diuji di tengah kuatnya arus digital hari ini. Dulu Youtube biasa saja, sekarang luar biasa, ditambah lagi dengan adanya Instagram. Nah, seorang blogger harus semakin kreatif lagi saat mengemas konten. Paltform-platform baru yang bermunculan bisa menjadi alat penyebarluasan konten kita,” ujar Nurul yang hobi mengelili sudut kota Bandung.

Acara puncak dari Bandung Readers Festival 2019 akan digelar di Museum Gedung Sate, pada tanggal 7 dan 8 September 2019. Masih ada banyak pembicara yang akan tampil, di antaranya, Lala Bohang, Fryza Pavitta, Rassi Narika, Riama Maslan, Puti Ceniza, Adew Habtsa, Irfan Teguh, Firza Arifien, Aulia Halimatussadiah (LLIA), Sari Meutia, Abduraafi Andrian, Lily Yulianti Farid, Mona Sylviana, Herry (Ucok) Sutresna, Nuran Wibisono, Jeanne Sanjaya, dan lainnya. (rls/heq)

Sumber: radarpena.id