Bandung Readers Festival : Hajatan Ciamik Para Pembaca

Bandung diguyur hujan deras. Hujan seolah menyambut pembukaan sebuah helatan literasi bertajuk Bandung Readers Festival (BRF), Rabu (04/9/2019).

Saya berangkat ke acara BRF dengan perasaan berdebar-debar, sebab jas hujan tak ada. Saya juga harus mengarungi keganasan lalu lintas kota Bandung pada jam pulang kerja. Sampai di jalan Purnawarman, tempat acara BRF dilangsungkan, hujan berubah gerimis.

Di ruang kegiatan, betapa antusiasnya saya, saat mendapati Prof. Bambang Sugiharto sedang berbicara. Cara penyampaian Bambang Sugiharto kala itu sesuai dengan yang sering saya dengar lewat kanal Youtube: artikulatif dan ekspresif.

Saya sebenarnya sedikit terkejut dengan kehadiran Prof. Bambang Sugiharto, sebab dalam jadwal acara hanya tertera dua sesi diskusi, pada jam 16.00 dan 19.00. Sementara tujuan utama saya sore itu untuk mengikuti diskusi dengan tajuk “Penulis dan Pembaca” bersama dua penulis muda berbakat: Sabda Armandio dan Dea Anugrah.

Saya coba menebak pembahasan yang sedang berlangsung. Semestinya bahasan Prof. Bambang Sugiharto itu ada kaitannya dengan hakikat membaca. Sebelumnya, Bambang Sugiharto memang selalu memberikan perspektif-perspektif menarik terkait segala sesuatu, salah satunya adalah hal yang berkaitan dengan membaca. Benar saja, setelah menyimak lebih jauh, ia berbicara tentang membaca dengan dua cabang bahasan, informatif dan formatif.

Mendengar pembahasannya, Bambang Sugiharto menjelaskan bagaimana kebiasaan mayoritas manusia Indonesia yang tidak familiar dengan membaca. Kemudian di era yang distraktif ini, membaca menjadi kemungkinan yang semakin sempit. Banyaknya godaan dari sosmed (sosial media) yang terus menginterupsi ruang-ruang pendalaman dalam membaca.

Bambang Sugiharto dan Cara Membaca
Karakteristik orang Indonesia itu bercakap-cakap. Lisan. Menurut Bambang Sugiharto, sosmed itu sama saja dengan obrolan-obrolan pra-digital. Kalau dulu hanya ngobrol di warung kopi, kini tempat ngobrol itu bertambah dan berubah wujud menjadi twitter, facebook, atau instagram.

Maka dari itu, yang disebut sebagai membaca sebenarnya jauh dan kegiatan berat, hal tentang membaca ini sangatlah esensial perannya dalam kehidupan manusia. Bermanfaat untuk kecerdasan, bahkan berguna untuk kesehatan tubuh.

Perbandingan antara orang yang membaca dan yang tidak, menurut Bambang Sugiharto, orang yang membaca akan menemukan dirinya dalam bacaan. Ia mendapatkan sesuatu yang substansial di dalam pendalamannya dari kata-kata. Sedangkan orang yang tidak membaca berbeda. Kalaulah ia tak bergaul, maka ia tak akan mendapat apa-apa seperti informasi atau wawasan tentang suatu hal. Semakin ia bergaul, barulah ia terisi. Tapi jelas, inti permasalahannya terletak pada membaca.

Orang yang tidak membaca menemukan dirinya di dalam orang lain. Ide-ide mereka di dapat dari pengalaman dengan orang lain. Secara tidak langsung ia meneruskan pemikiran orang lain. Sedangkan orang yang membaca, ia menemukan dirinya dalam bentuk. Namun dalam forma yang berbeda: ia membaca.

Ketika dua pembahasan tersebut (informatif dan formatif) dibongkar, dikemukakanlah hal yang sangat penting dari membaca. Manfaat informatif itu lahir dari isi bacaan. Sedang manfaat formatif adalah manfaat membaca dari proses membaca itu sendiri.

Membaca secara informatif itu melihat peradaban dunia, melihat perkembangan pemikiran manusia. Sebab penulis pasti adalah pemikir. Ketika kita membaca sesuatu, maka kita membaca pemikiran orang lain. Membaca manusia. Membaca kemanusiaan yang ada di dalam diri penulis: kapan dia hidup, seperti apa dia rupanya, apa yang menjadi gagasannya, dan prinsip-prinsipnya.

Cara membaca informatif itu dapat melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang terus-menerus bergerak tanpa henti. Melihat pemikiran manusia dari berbagai kurun waktu, dari buku ke buku, pemikiran ke pemikiran.

Selanjutnya, hal yang tak kalah menarik adalah membaca secara formatif. Dalam cara membaca formatif, membaca bukan hanya bermanfaat untuk menambah ilmu kita—sama seperti tadi, memindahkan paragraf ke dalam kepala. Namun lebih keren daripada itu.

Berikut penjelasannya.

  1. Meningkatkan kinerja otak: dalam otak, terdapat jaringan-jaringan sinapsis yang berhubungan dengan kecerdasan. Semakin banyak seseorang membaca semakin rumit sinapsisnya. Dan dengan semakin rumitnya sinapsis, maka semakin cerdaslah seseorang.
  2. Melatih keterampilan berbahasa dan komunikasi. Semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang, maka semakin banyak cara dia berkomunikasi dan berbahasa.
  3. Melatih konsentrasi dan fokus. Membaca itu melatih ingatan. Melatih konsentrasi dengan apa yang sedang ia baca. Ia harus mengerti kausalnya, harus mengerti jalan atau alurnya. Dengan begitu ia belajar fokus dan konsentrasi.
  4. Melatih empati: semakin ia banyak membaca, semakin ia peduli dengan sekitar. Dengan semakin banyak ia membaca (khususnya sastra), ia mengetahui berbagai macam manusia, mengetahui berbagai macam pemikiran manusia. Tahu situasi-situasi yang dihadapi manusia. Maka dengan pengetahuannya itu, seseorang yang rakus membaca, punya empati yang berbeda dengan manusia yang tidak membaca.

Dalam pembahasannya, Bambang Sugiharto menempatkan sastra sebagai bacaan yang sangat penting. Membaca sastra adalah membaca manusia itu sendiri. Membaca bagaimana manusia mengembangkan cerita dari kehidupan. Sastra penting untuk memahami manusia. Pada saat bacaan praktis dan how tohari ini bertebaran di mana-mana, juga bacaan-bacaan yang kemudian dikategorikannya receh, keberadaan sastra sangat penting untuk melihat diri manusia secara utuh.

Salah satu titik “kenapa pembaca di Indonesia sedikit,” ialah karena beberapa orang tidak terbiasa dengan bacaan sejak dini. Sejak dini kita mempelajari buku pelajaran praktis, dan bukan sebuah paket “sastra klasik wajib baca”, seperti yang telah dipraktikkan di Barat. Bagi Bambang, alasan seperti itulah yang menyebabkan sulitnya pembaca Indonesia untuk konsisten menjadi pembaca yang serius, atau bahkan untuk hanya sekadar menjadi pembaca.

Pembahasan oleh Prof. Bambang Sugiharto adalah sesi pembukaan Bandung Readers Festival. Hal ini membuat saya bersepakat, bahwa memang acara dengan tajuk seperti ini seharusnya dibuka dengan sebuah bahasan terkait. Bukan hanya sambutan haha-hihi atau terima kasih sini dan terima kasih sana. Sambutan bisa lebih substansial dan menyasar masalah yang tepat. Harus diakui, pembukaan dalam acara ini sangat ciamik.

Menjadi Pembaca dan Penulis ala Dea dan Dio
Sore itu, Dea Anugrah dan Sabda Armandio duduk di panggung, sementara Tegar Bestari didapuk sebagai moderator. Mereka akan diajak berbincang banyak hal terkait membaca dan menulis.

Dea dan Dio (Sabda Armandio) sama-sama mengakui bahwa membaca adalah aktivitas yang bisa mereka lakukan untuk menghindari aktivitas fisik. Membaca adalah hobi. Namun, keduanya memiliki perbedaan pada metode membaca. Dea kecil mulai membaca karena di kontrakannya dulu ada sebuah lemari berisikan buku. Dari situ ia mulai membaca. Sementara Dio, memulainya dengan membaca komik dan berbagai novel detektif.

Keduanya seorang penulis, tentulah mereka harus membaca. Dio sendiri mengungkapkan bahwa ia membaca untuk menulis. Dio lebih memfokuskan bacaannya pada komik dan buku detektif yang kemudian ia tulis di blog. Sedangkan Dea membaca untuk kesenangan. Dea lebih suka melabeli dirinya sebagai pembaca dibandingkan penulis.

Bincang-bincang tersebut ditutup dengan hangat. Hujan tampaknya sudah berhenti setelah bincang bersama Dea dan Dio tadi. Sayang sekali saya tak mengikuti bincang-bincang kedua dari Theoresia Rumthe yang dinamai “Quote No More”. Saya tidak sabar menunggu hari kedua helatan BRF ini, sebab di NuArt juga di markas Panas Dalam, tajuk bahasan juga pembicara tidak kalah menarik.[]

Sumber: buruan.co